8 jam yang lalu
Pangannews.id – Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah menilai persoalan utama yang dihadapi perajin tempe dan tahu saat ini bukan rendahnya permintaan pasar, melainkan ketersediaan kedelai yang masih bergantung pada impor.
Karena itu, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) diminta memperkuat sistem pengadaan dan distribusi bahan baku.
Menurut Farida, konsumsi tempe dan tahu di Indonesia terus tinggi sehingga peluang pasar masih terbuka lebar. Namun, tingginya ketergantungan terhadap kedelai impor membuat pasokan rentan terganggu ketika terjadi gejolak ekonomi maupun perdagangan global.
Untuk itu, Gakoptindo bersama para pemangku kepentingan perlu memperkuat rantai pasok agar seluruh perajin tetap memperoleh bahan baku secara merata.
"Karena ketergantungan bahan baku dari impor sangat tinggi, maka Gakoptindo beserta seluruh stakeholder perlu menata rantai pasok agar saat terjadi gejolak ekonomi tidak ada anggota yang tidak mendapatkan bahan bakunya," kata Farida saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan Gakoptindo di Salatiga, Selasa (21/7/2026).
Farida mengatakan, selama pasokan kedelai terjaga, perajin tidak perlu mengkhawatirkan penyerapan hasil produksi. Tempe dan tahu masih menjadi sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya terjangkau.
Selain memperkuat rantai pasok, ia mendorong Gakoptindo meningkatkan perannya sebagai wadah pembinaan bagi anggotanya, mulai dari berbagi pengetahuan, meningkatkan kualitas produksi, hingga membantu menyelesaikan persoalan usaha.
Untuk menjaga keberlangsungan industri, pemerintah telah menyiapkan program Bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan (SPHP) kedelai sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi semester II 2026.
Melalui program tersebut, perajin tempe dan tahu akan memperoleh subsidi sebesar Rp2.000 per kilogram dengan kuota awal 250.000 ton kedelai. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp500 miliar untuk menjaga stabilitas harga bahan baku sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha di tengah fluktuasi harga kedelai dunia.
Editor: Adi Permana
Senin, 20 Juli 2026 12:03 WIB
Rabu, 15 Juli 2026 11:21 WIB
Senin, 13 Juli 2026 07:34 WIB
Kamis, 02 Juli 2026 12:07 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...