KKP Targetkan 15 Ribu Hektare Tambak di Aceh Pulih hingga Akhir 2026

Pers Pangannews

8 jam yang lalu

news
Bencana banjir dan longsor yang melanda Kab. Pidie Jaya pada tahun 2025 menimbulkan dampak serius terhadap sektor kelautan dan perikanan. (Foto : Prokopim Pidie Jaya)

Pangannews.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan 15.000 hektare tambak di Aceh kembali beroperasi hingga akhir 2026 sebagai bagian dari upaya memulihkan sektor budi daya perikanan yang terdampak banjir besar pada akhir November 2025.

Pada tahap awal, sekitar 5.200 hektare tambak ditargetkan sudah bisa kembali dimanfaatkan paling lambat September 2026.

Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah tidak hanya melakukan rehabilitasi tambak, tetapi juga menyiapkan bantuan benih dan pakan agar petambak dapat segera memulai kembali usaha mereka.

"Setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budi daya," ujar Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha saat meninjau kawasan tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh, dikutip dari Antara.

Berdasarkan pendataan KKP, banjir yang melanda Aceh pada akhir 2025 menyebabkan sekitar 30 ribu hektare tambak di 16 kabupaten/kota mengalami kerusakan.

Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah dengan dampak terparah, dengan lebih dari 10 ribu hektare tambak rusak.

Kerusakan juga tercatat di Kabupaten Bireuen seluas sekitar 4.900 hektare dan Aceh Tamiang sekitar 3.400 hektare.

Hingga kini, KKP mencatat sebanyak 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin. Luasan tersebut diperkirakan terus bertambah seiring percepatan rehabilitasi di berbagai wilayah terdampak.

Menurut Andy, rehabilitasi dilakukan melalui refocusing anggaran internal KKP sehingga proses pemulihan dapat segera berjalan tanpa harus menunggu rampungnya administrasi anggaran rehabilitasi. Seluruh bantuan juga dipastikan diberikan tanpa biaya kepada masyarakat.

KKP memperkirakan setiap hektare tambak yang kembali beroperasi dengan pola budi daya tradisional plus mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus.

Dengan asumsi harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet yang diperoleh petambak mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam waktu tiga bulan.

Salah seorang petambak di Pidie Jaya, Fazil, mengatakan bantuan benih dan pakan sangat membantu masyarakat untuk kembali menjalankan usaha setelah tambaknya rusak akibat banjir.

"Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen," ujarnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...