10 jam yang lalu
Pangannews.id - Ekspor udang Indonesia tak hanya bergantung pada kualitas produk. Sistem karantina yang memastikan komoditas memenuhi standar kesehatan, keamanan pangan, sanitasi, hingga ketertelusuran menjadi salah satu penentu produk perikanan dapat diterima negara tujuan.
Gambaran itu terlihat dari aktivitas ekspor PT Bogatama Marinusa (BOMAR), salah satu perusahaan pengolahan dan eksportir seafood di Makassar. Sepanjang semester I 2026, perusahaan tersebut telah mengirim 859,4 ton udang ke sejumlah negara dengan nilai mencapai Rp148,2 miliar.
Dari total ekspor tersebut, sebanyak 765.132 kilogram merupakan udang vaname dengan nilai Rp122,5 miliar. Sementara udang windu mencapai 94.292 kilogram dengan nilai Rp25,7 miliar.
Komoditas tersebut diekspor ke sejumlah negara, di antaranya Jepang, Vietnam, dan Tiongkok. Sebelum dikirim, seluruh produk menjalani tindakan karantina dan dilengkapi 69 sertifikat karantina sebagai salah satu persyaratan perdagangan.
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan sistem karantina menjadi bagian penting dalam memastikan produk perikanan yang keluar dari Indonesia memenuhi persyaratan negara tujuan.
"Kita memastikan alur keluar masuk semua udang atau perikanan, baik di pulau, antar pulau maupun antar negara itu harus sehat, mutu dan kualitasnya terjaga," ujar Karding saat meninjau proses pelayanan karantina di PT BOMAR, Makassar, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, keberhasilan produk udang menembus pasar internasional tidak cukup hanya dengan menghasilkan komoditas berkualitas. Persyaratan kesehatan dan keamanan yang ditetapkan masing-masing negara juga harus dipenuhi secara konsisten.
Karena itu, proses karantina menjadi bagian dari rantai ekspor sejak komoditas disiapkan hingga dinyatakan memenuhi persyaratan untuk dikirim. Di PT BOMAR, proses tersebut terintegrasi dengan sistem pengendalian mutu perusahaan.
Karding meninjau sejumlah tahapan pengolahan udang, mulai dari proses breaded hingga pengepakan. Pemeriksaan tersebut mencakup penerapan sistem jaminan kesehatan komoditas, sanitasi, keamanan pangan, serta pelayanan sertifikasi ekspor.
CEO PT BOMAR Tigor Chendarma mengatakan kepastian layanan karantina turut menentukan kelancaran pengiriman produk ke pasar luar negeri. Bagi perusahaan, sertifikat karantina bukan sekadar dokumen yang harus dipenuhi sebelum ekspor.
"Layanan karantina bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap produk yang kami kirim telah memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang dipersyaratkan negara tujuan," kata Tigor.
Dia menilai layanan yang cepat dan kredibel membantu perusahaan menjaga kepastian pengiriman sekaligus mempertahankan kepercayaan pembeli di luar negeri. Sebab, persoalan pada pemenuhan standar negara tujuan dapat berpengaruh langsung terhadap kelancaran perdagangan.
Kepala Karantina Sulawesi Selatan Sitti Chadidjah mengatakan pihaknya memastikan komoditas yang akan diekspor telah memenuhi persyaratan kesehatan dan teknis sebelum sertifikat diterbitkan.
Menurut dia, proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga agar komoditas asal Sulawesi Selatan dapat diterima di negara tujuan tanpa hambatan.
"Komitmen kami memastikan setiap komoditas ekspor telah memenuhi seluruh persyaratan karantina sehingga dapat diterima negara tujuan tanpa hambatan," katanya.
Di saat yang sama, layanan sertifikasi terus didorong agar lebih cepat dan akurat sehingga tidak menjadi titik hambatan dalam rantai ekspor.
Editor : Adi Permana
Jumat, 31 Juli 2026 13:43 WIB
Kamis, 23 Juli 2026 14:21 WIB
Selasa, 21 Juli 2026 20:53 WIB
Senin, 20 Juli 2026 12:03 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...