15 jam yang lalu
Pangannews.id - Tempe semakin mendapat tempat di pasar Amerika Serikat. Produk pangan tradisional Indonesia itu menjadi salah satu komoditas yang paling banyak menarik perhatian calon pembeli dalam ajang Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York.
Ketertarikan tersebut ikut mendorong potensi transaksi produk pangan Indonesia selama pameran mencapai 8,3 juta dolar AS atau sekitar Rp150,7 miliar.
Nilai itu berasal dari sejumlah penjajakan bisnis yang dilakukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli internasional.
Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, mengatakan tempe menjadi salah satu produk yang memiliki prospek paling menjanjikan untuk dikembangkan di pasar Amerika Serikat.
Menurutnya, meningkatnya tren konsumsi pangan berbasis nabati, makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat menjadi faktor utama yang mendorong tingginya minat terhadap produk tersebut.
"Selain menghasilkan potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat. Kami terus mengawal tindak lanjut penjajakan bisnis agar peluang tersebut dapat berujung pada kontrak ekspor," ujar Ranitya dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).
Ia menilai peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan memperkuat kesiapan pelaku usaha di dalam negeri. Mulai dari kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, hingga pengemasan dan strategi pemasaran agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor secara berkelanjutan.
Dalam pameran tersebut, Paviliun Indonesia menampilkan enam pelaku usaha dan UMKM dengan beragam produk unggulan, antara lain kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, mi instan, olahan kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, hingga berbagai produk pangan olahan.
Di antara seluruh produk yang dipamerkan, tempe menjadi salah satu yang paling banyak menarik perhatian calon pembeli.
Amerika Serikat merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah China. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke negara tersebut mencapai 5,97 miliar dolar AS, naik 14,06 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 5,23 miliar dolar AS.
Nilai ekspor itu menyumbang sekitar 10,1 persen dari total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang mencapai 59,04 miliar dolar AS sepanjang 2025.
Secara historis, ekspor pangan Indonesia ke AS mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Nilainya tercatat sebesar 5,62 miliar dolar AS pada 2021, meningkat menjadi 6,03 miliar dolar AS pada 2022, turun menjadi 4,96 miliar dolar AS pada 2023, kemudian kembali naik menjadi 5,23 miliar dolar AS pada 2024 dan 5,97 miliar dolar AS pada 2025.
Sementara itu, pada periode Januari-Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai 18,44 miliar dolar AS. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia tercatat sebesar 12,73 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 5,71 miliar dolar AS. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 7,02 miliar dolar AS.
Adapun sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai 43,80 miliar dolar AS. Indonesia mencatatkan ekspor sebesar 30,96 miliar dolar AS dan impor 12,85 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS.
Editor : Adi Permana
Selasa, 21 Juli 2026 20:53 WIB
Senin, 20 Juli 2026 12:03 WIB
Rabu, 15 Juli 2026 11:21 WIB
Senin, 13 Juli 2026 07:34 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...