BGN Temukan 950 Dapur MBG yang Diduga Bermasalah

Pers Pangannews

22 jam yang lalu

news
Kepala BGN Sudaryono. (Foto : dok. BGN)

Pangannews.id - Perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berhadapan dengan persoalan di tingkat dapur. Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan sekitar 950 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dicurigai belum memenuhi standar higiene dan sanitasi.

Temuan itu menjadi perhatian karena dapur merupakan titik penting dalam rantai penyediaan makanan MBG. Masalah kebersihan dan sanitasi di tempat pengolahan dapat berpengaruh langsung terhadap keamanan makanan sebelum dikonsumsi penerima manfaat.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan angka tersebut masih berupa temuan awal yang harus diverifikasi. Namun, dapur yang nantinya terbukti tidak memenuhi standar dapat dikenai sanksi hingga penghentian operasional secara permanen.

"Sampai sejauh ini, kami mendapatkan laporan ada 950 dapur yang kami curigai sampai dengan hari ini kemungkinan besar tidak layak sanitasi dan higiene, yang kemungkinan akan kami umumkan di kemudian hari berapa yang pasti kami tutup secara permanen," kata Sudaryono.

Menurut dia, persoalan kelayakan dapur tidak dapat diselesaikan hanya dengan melengkapi dokumen. Kondisi fisik dan penerapan standar higiene serta sanitasi tetap menjadi penentu apakah sebuah SPPG layak beroperasi.

Karena itu, BGN mewajibkan setiap dapur MBG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memastikan proses pengolahan makanan memenuhi standar kesehatan.

"SLHS ini bukan syarat administrasi, melainkan ini syarat mutlak," ujar Sudaryono.

BGN memberikan batas waktu hingga 10 Agustus 2026 bagi SPPG yang belum memiliki SLHS untuk menyelesaikan proses pengurusan. Pengelola dapur diminta berkoordinasi dengan dinas kesehatan di daerah masing-masing.

Namun, pemenuhan sertifikat tidak otomatis membuat dapur dinyatakan aman. BGN tetap akan melihat kelayakan higiene dan sanitasi di lapangan.

"Kalau layak, satu. Kalau tidak layak, ya memang nol. Jadi, mau sebagus apapun, ternyata secara higienis dan sanitasinya kemudian tidak layak, maka harus ditangguhkan permanen. Kami tutup dapurnya secara permanen," tutur Sudaryono.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...