Sungai Batanghari Kian Tercemar, Ikan Keramba Mati hingga Puluhan Ton

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Musa Yusuf, petani keramba Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, membersihkan ikan mati dari dalam keramba apung miliknya yang berada di tepi Sungai Batanghari, Minggu (9/8/2026). (Foto : ANTARA/Agus Suprayitno)

Pangannews.id - Kematian ikan secara massal kembali dikeluhkan petani keramba di sepanjang aliran Sungai Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi. Di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), ikan yang dibudidayakan petani disebut mati dalam jumlah besar hingga menyisakan sekitar 10 persen dari total ikan yang ditebar.

Petani keramba di Desa Sarang Burung, Musa Yusuf, mengatakan kematian ikan semakin sering terjadi dalam tiga bulan terakhir. Kondisi itu bertepatan dengan menyusutnya debit Sungai Batanghari selama musim kemarau.

“Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati,” kata Musa, dikutip dari Antara.

Musa menduga kematian ikan berkaitan dengan kualitas air sungai yang menurun. Selain debit air yang menyusut, ia menyoroti dugaan pencemaran dari aktivitas tambang emas di bagian hulu Batanghari.

Ia menyebut petani menduga limbah berbahaya, termasuk merkuri, ikut mencemari aliran sungai. Namun, penyebab pasti kematian ikan masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kaitannya dengan pencemaran tertentu.

Menurut Musa, dampaknya cukup besar karena Jaluko merupakan salah satu kawasan budidaya ikan air tawar di Jambi. Keramba tersebar di sejumlah desa, antara lain Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut dan Pematang Jering.

Jenis ikan yang banyak dibudidayakan antara lain ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus).

Musa memperkirakan ikan yang mati di wilayah Jaluko bisa mencapai puluhan ton setiap bulan. Perkiraan itu didasarkan pada jumlah keramba yang mencapai ribuan petak dan tingkat kematian ikan yang tinggi.

“Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan, karena di daerah ini ada ribuan tambak. Bayangkan saja, dari delapan ribu ikan yang ditabur, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor yang hidup, ini untuk satu petak. Kalau setiap petani punya 10 petak, tinggal kalikan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Jambi Ivan Wirata menilai pencemaran sungai merupakan persoalan yang terbentuk dari berbagai sumber, mulai dari aktivitas tambang ilegal, limbah rumah tangga dan industri hingga kerusakan kawasan di sepanjang daerah aliran sungai.

Menurut Ivan, kondisi tersebut tidak bisa hanya dilihat dari kematian ikan di keramba. Persoalan yang lebih besar berada pada kondisi ekosistem sungai dari hulu hingga hilir.

Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan perusahaan air minum daerah, tingkat kekeruhan air baku Sungai Batanghari sempat mencapai 1.400 Nephelometric Turbidity Unit (NTU). Angka tersebut jauh di atas kisaran normal yang disebut berada pada 250-300 NTU.

Ivan meminta pemerintah segera melakukan penanganan secara lintas sektor. Ia juga mendorong agar DAS Batanghari mendapat perhatian lebih besar pemerintah pusat, termasuk melalui pengusulan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan, masalah sebenarnya ada pada kerusakan ekosistem di bagian hulu yang harus dibenahi. Jika DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi investasi besar yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Dampak terhadap ekosistem perairan juga terlihat dari perubahan keragaman jenis ikan di Batanghari.

Peneliti ikan Sumatra sekaligus dosen Biologi Universitas Jambi (Unja), Tedjo Sukmono, mengatakan aktivitas tambang emas ilegal menjadi salah satu ancaman terhadap biota perairan sungai. Menurut dia, perubahan kondisi sungai dalam beberapa dekade terakhir tercermin dari menyusutnya jumlah spesies ikan yang ditemukan.

Tedjo menyebut penelitian pada periode 1986-1994 mencatat sekitar 300 spesies ikan di Sungai Batanghari. Jumlah tersebut terus menurun. Dalam penelitian pada 2023, jenis ikan yang ditemukan tersisa sekitar 135 spesies.

“Perlu gerakan sosial untuk penyelamatan Sungai Batanghari, penyusunan rencana pengelolaan secara bersama dan terintegrasi,” ujar Tedjo.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...