Terumbu Buatan Mampu Tingkatkan Keanekaragaman Ikan, Namun Belum Pulihkan Ekosistem

Pers Pangannews

8 jam yang lalu

news
Terumbu buatan dimanfaatkan sebagai upaya memulihkan ekosistem terumbu karang yang rusak.(Foto : dok. Zach Boakes/BRIN)

Pangannews.id - Terumbu buatan memang mampu menghidupkan kembali kawasan terumbu karang yang rusak. Namun, penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kehadiran terumbu buatan belum otomatis mengembalikan fungsi ekosistem seperti yang dimiliki terumbu karang alami.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian selama lima tahun di Teluk Tianyar, Bali Utara, yang membandingkan kondisi terumbu karang alami, kawasan terumbu buatan, dan dasar laut berpasir yang merupakan bekas terumbu karang terdegradasi.

Dilansir dari laman BRIN, Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Zach Boakes, mengatakan selama ini keberhasilan restorasi umumnya dinilai dari pertumbuhan dan tutupan karang. Padahal, menurutnya, ukuran tersebut belum cukup untuk menggambarkan pulihnya ekosistem.

"Yang lebih penting adalah memastikan fungsi ekosistem benar-benar kembali. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat untuk mengevaluasi efektivitas restorasi sekaligus mendukung penyusunan strategi konservasi yang lebih berkelanjutan," ujar Zach.

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan metode Remote Underwater Video (RUV), yakni kamera bawah air yang merekam aktivitas ikan tanpa mengganggu perilaku alaminya.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terumbu buatan mulai dihuni komunitas ikan yang menyerupai terumbu alami dalam waktu satu hingga tiga tahun setelah dipasang. Dibandingkan kawasan dasar laut berpasir yang rusak, keberadaan terumbu buatan juga mampu meningkatkan jumlah dan keanekaragaman ikan secara signifikan.

Namun, ketika pemantauan dilanjutkan hingga tahun kelima, gambaran yang muncul menjadi lebih kompleks. Komposisi ikan di terumbu buatan ternyata masih berbeda dengan terumbu alami.

Terumbu buatan lebih banyak dihuni ikan predator, sementara terumbu alami didominasi ikan pemakan plankton dan ikan herbivora yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

Tim peneliti menilai perbedaan tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi cuaca, masuknya ikan-ikan muda ke habitat baru, interaksi predator dan mangsa, hingga aktivitas penangkapan ikan. Artinya, proses pemulihan ekosistem berlangsung dinamis dan tidak bisa dinilai hanya dalam waktu singkat.

Penelitian ini juga menemukan bahwa durasi pemantauan sangat menentukan kesimpulan yang dihasilkan. Jika evaluasi hanya dilakukan selama tiga tahun, hasilnya bisa berbeda dibandingkan ketika pengamatan diperpanjang hingga lima tahun.

Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, menegaskan penelitian jangka panjang menjadi fondasi penting dalam menyusun kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran.

"Penelitian jangka panjang merupakan kunci dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah yang dapat mendukung pengelolaan ekosistem yang berketahanan iklim," kata Albertus.

Sementara itu, peneliti BRIN Yudawati menambahkan bahwa perspektif jangka panjang tidak hanya diperoleh dari pemantauan selama beberapa tahun, tetapi juga melalui kajian kondisi terumbu karang pada masa lampau.

Menurutnya, data mengenai perubahan terumbu karang dalam rentang waktu geologi dapat membantu menjelaskan bagaimana ekosistem tersebut mampu bertahan menghadapi perubahan lingkungan dan iklim. Pemahaman itu menjadi bekal penting dalam merancang strategi konservasi yang lebih efektif.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...