2 jam yang lalu
Pangannews.id - Suasana Wisuda Nasional Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian (Kementan) di Auditorium Gedung F, Kementerian Pertanian, Kamis (13/8), berlangsung penuh haru sekaligus inspiratif. Di hadapan 872 wisudawan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan perhatian khusus kepada para wisudawan yang telah kehilangan orang tua sekaligus mendorong mereka untuk berani menjadi pengusaha di sektor pertanian dan peternakan.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran meminta wisudawan dan wisudawati yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya untuk maju ke depan. Para wisudawan kemudian diajak berdialog mengenai latar belakang keluarga dan pekerjaan orang tua mereka.
Mentan Amran selanjutnya menanyakan cita-cita para wisudawan setelah menyelesaikan pendidikan. “Mau jadi pengusaha tidak?” tanya Mentan Amran, yang langsung dijawab serentak oleh para wisudawan, “Mau, Bapak.”
Para wisudawan kemudian diminta memilih bidang usaha yang ingin ditekuni, baik pertanian maupun peternakan. Salah seorang di antaranya adalah M. Fikri Jamal, lulusan terbaik Program Studi Kesehatan Hewan Polbangtan Bogor, yang memilih bidang peternakan dengan rencana mengembangkan usaha budidaya kambing dan domba.
Ketika Mentan menawarkan bantuan berupa hand tractor sebagai modal usaha, sebagian besar wisudawan menyatakan kesediaannya menerima bantuan tersebut. Namun, Jamal justru menyampaikan pertimbangan yang berbeda. “Bapak, izin. Terima kasih banyak atas pemberian yang Bapak tawarkan. Apakah memungkinkan bantuan yang Bapak berikan dapat menunjang usaha yang akan saya bangun di bidang peternakan? Saya khawatir tidak dapat menjalankan amanah yang Bapak berikan dalam bentuk alsintan, Bapak,” ujar Jamal.
Pernyataan tersebut justru mendapat perhatian khusus dari Mentan Amran. Menurutnya, sikap Jamal menunjukkan kejujuran dan kehati-hatian dalam memikirkan keberlanjutan usaha.
Mentan kemudian memberikan pesan kepada Jamal agar tidak membatasi peluang usaha hanya berdasarkan bantuan yang dianggap sesuai dengan bidang pendidikan. Menurutnya, setiap alat dan modal yang diberikan pemerintah harus mampu dimanfaatkan secara produktif untuk menghasilkan pendapatan. “Ini generasi sekarang. Anak ini sudah punya modal jujur, tetapi belum punya pikiran bisnis. Kalau kamu diberi traktor, putar itu setiap hari. Kerja keras pagi, siang, malam. Kalau perlu beli senter kepala supaya bisa bekerja sampai malam. Berikan kerja terbaik.”
Mentan Amran juga mengajak Jamal menghitung potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari kerja keras tersebut. Menurutnya, apabila produktivitas dan pemanfaatan alat dilakukan secara optimal, penghasilan yang terkumpul dapat menjadi modal untuk mewujudkan cita-cita membangun usaha peternakan. “Kalau satu hari bisa terkumpul Rp2 juta, dalam sebulan bisa Rp50 juta. Apakah masih tidak mungkin untuk membuat kandang ternak?” ujar Amran.
Pesan tersebut menjadi gambaran bahwa lulusan pendidikan vokasi pertanian tidak cukup hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga harus memiliki keberanian, etos kerja, kreativitas, serta kemampuan melihat peluang bisnis.
Mentan Amran menegaskan, pemerintah tidak ingin lulusan perguruan tinggi vokasi pertanian hanya menjadi pencari kerja. Para lulusan diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor pertanian. “Lulusan pertanian harus menjadi bagian dari kekuatan besar pembangunan pertanian. Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan. Jadilah pengusaha, manfaatkan ilmu, teknologi, alat dan peluang yang ada untuk membangun usaha,” tegas Amran.
Ia juga berpesan agar para wisudawan tidak takut memulai usaha dari skala kecil. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak ditentukan semata-mata oleh besarnya modal awal, tetapi oleh kemauan bekerja keras, kejujuran, disiplin dan kemampuan melihat peluang. “Mulai dari kecil, bekerja keras dan terus berkembang. Yang penting jangan menyerah. Pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan kalau dikelola dengan serius dan profesional,” katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan momen wisuda bukan sekadar seremoni pelepasan mahasiswa, tetapi menjadi awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan kompetensi yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menyampaikan bahwa kisah M. Fikri Jamal menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi harus mampu membentuk lulusan yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dan membangun usaha.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengapresiasi sikap M. Fikri Jamal yang menyampaikan secara terbuka kebutuhan usahanya kepada Mentan Amran. Menurutnya, keberanian untuk berkata jujur dan menyampaikan kebutuhan berdasarkan perencanaan usaha merupakan bagian dari karakter profesional yang perlu dimiliki lulusan pendidikan vokasi. “Jamal menunjukkan bahwa seorang lulusan tidak hanya dituntut untuk memiliki kompetensi, tetapi juga harus mampu berpikir kritis dan realistis dalam merancang usaha. Kejujuran yang disampaikan Jamal justru menjadi modal penting bagi seorang entrepreneur,” ujar Yoyon.
Ia mengatakan, sebagai lulusan terbaik Program Studi Kesehatan Hewan, Jamal diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya menjadi usaha nyata di bidang peternakan. “Kami berharap Jamal dan seluruh lulusan Polbangtan Bogor tidak berhenti setelah wisuda. Jadikan ilmu yang diperoleh sebagai modal untuk menciptakan usaha, membuka lapangan kerja dan berkontribusi terhadap pembangunan pertanian,” katanya.
Yoyon menambahkan, pesan Mentan Amran agar para lulusan memiliki mindset bisnis, kerja keras dan keberanian mengambil peluang menjadi bekal penting bagi generasi muda pertanian. “Wisuda bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal untuk membuktikan bahwa lulusan pendidikan vokasi pertanian mampu menjadi job creator. Kami ingin lulusan Polbangtan Bogor hadir sebagai generasi yang kompeten, berkarakter, adaptif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian,” pungkasnya.
Wisuda Nasional tersebut menjadi momentum penting bagi 872 wisudawan Politeknik Lingkup Kementan untuk memasuki dunia profesional dan kewirausahaan. Pesan Mentan Amran kepada para wisudawan, khususnya mereka yang telah kehilangan orang tua, menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan ilmu, kerja keras, kejujuran dan keberanian mengambil peluang, generasi muda pertanian diharapkan mampu mengubah tantangan menjadi kekuatan dan membangun masa depan melalui sektor pertanian. (Adv/*)
You must login to comment...
Be the first comment...