Penanganan Pascapanen dan Kontribusi dalam Mitigasi Dampak Perubahan Iklim

Pangannews.id

Senin, 01 Mei 2023 17:31 WIB

news
Gambar : Ilustrasi Kerusakan Produk Segar Lepas Panen.

PanganNews.id Jakarta - Oleh Desy Nofriati, SP. M.Si PMHP Muda Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Jambi

Mengenal Pascapanen

Secara umum, pascapanen adalah tahapan pengelolaan produk pertanian sejak panen hingga segera setelah panen yang terdiri dari kegiatan pembersihan, penyeleksian, pengeringan, penyimpanan hingga pengemasan. Mengacu pada Permentan No.73/Permentan/Ot.140/7/2013, Pascapanen didefenisikan sebagai rangkaian kegiatan yang dimulai dari pengumpulan hasil panen, proses penanganan pascapanen hingga produk siap diantarkan ke konsumen (from farm to table). Istilah lain pascapanen adalah pasca produksi (Postproduction) yang terdiri dari dua tahapan kegiatan yaitu pascapanen (postharvest) dan pengolahan (processing).

Penanganan pascapanen (postharvest) masuk dalam kategori (1) pengolahan primer (primary processing) yang dimaknai untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” (penanganan segar) dan atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Penanganan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan produk. (2) Pengolahan (secondary processing) dimaksudkan segala tindakan yang mengubah hasil tanaman (produk) ke bentuk lain dengan beberapa tujuan diantaranya agar produk dapat bertahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain. Atau sebagai bentuk inovasi dan kreatifitas untuk memperkaya keragaman produk olahan pertanian sehingga semangat dalam mengkosumsi produk pertanian dapat meningkat. 

Urgensi Penanganan Pascapanen 

Setiap tanaman apabila telah lepas dari induknya (setelah dipanen) akan sangat mudah mengalami kerusakan fisik sehingga memicu kerusakan kimiawi hingga produk menjadi busuk. Kerusakan yang terjadi tidak hanya menyebabkan kehilangan hasil secara kuantitatif tapi akan menyebabkan penurunan kualitas kemudian berdampak pada rusaknya nilai gizi produk. Berbagai faktor dapat mempercepat kerusakan produk pertanian setelah panen diantaranya faktor fisik, mekanik, biologi, mikrobiologis maupun fisiologis. Namun titik kritis kerusakan pascapanen terdapat pada faktor fisik atau mekanik yaitu disebabkan oleh penangangan manusia atau petani dimulai saat panen hingga tahapan berikutnya yang tidak ramah terhadap produk pertanian tersebut.

Faktor fisik atau mekanik dapat diartikan sebagai sikap, prilaku atau cara manusia (petani) dalam menangani produk pertanian saat panen hingga lepas panen. Cara penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan pelukaan pada jaringan produk dan hal ini menjadi pintu pembuka bagi kerusakan biologis, mikrobiologis ataupun fisiologis yang mempercepat proses pembusukan produk. Produktivitas yang tinggi pada komoditas pertanian jika tidak dibarengi dengan penanganan pascapanen yang tepat disetiap tahapannya akan menyebabkan kehilangan hasil produk pertanian semakin tinggi. Kehilangan hasil dapat terus meningkat seiring dengan tahapan pascapanen yang dilakukan. Kehilangan hasil baik, secara kuantitas maupun kualitas tentunya akan mempengaruhi nilai atau harga produk. Produk pertanian mungkin akan dapat diterima oleh pasar namun dihargai rendah ataupun produk tidak dapat diterima oleh konsumen karena mengalami pembusukan lebih cepat serta tidak tahan lama dan selanjutnya akan terbuang sia-sia. Kemudian, rendahnya serapan pasar secara langsung akan akan berdampak pada rendahnya pendapatan dan petani berpotensi mengalami kerugian dalam usaha taninya. 

Kontribusi Penanganan Pascapanen dalam Mitigasi Dampak Perubahan Iklim

Disisi lain, kerusakan produk setelah lepas panen akan berakhir pada pembusukan yang selanjutnya disebut sebagai susut hasil ataupun susut cecer dan produk terbuang percuma di lahan pertanian atau dilingkungan sekitar. Sebagai akibatnya produk menjadi limbah organik yang secara nyata turut memberi kontribusi menyumbang emisi gas rumah kaca ke atmosfer. 

Oleh karena itu, memberi perhatian pada penerapan konsep penanganan pascapanen yang tepat (GHP) disetiap tahapannya merupakan salah satu langkah strategis bagi sektor pertanian untuk turut berkontribusi dalam mengatasi persoalan global yaitu fenomena “Perubahan Iklim (PI)”. Kita mengetahui bahwa secara umum posisi sektor pertanian dalam perubahan iklim adalah sebagai korban dari perubahan iklim sekaligus sebagai sumber emisi baik pada usaha pertanian (on farm) maupun saat lepas panen (off farm). Sungguhpun demikian, sektor pertanian berpeluang berkontribusi dalam penurunan emisi/sekuestrasi melalui berbagai aksi atau program diantaranya dari perspeltif pascapanen yaitu melalui gerakan penanganan pascapanen yang tepat (GHP) untuk semua komoditas disetiap tahapannya. 

Diharapkan sosialisasi mengenai pentingnya penerapan pascapanen yang tepat kepada setiap pelaku usaha tani lebih massif dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan. Hal ini penting, agar semua informasi dan pengetahuan terkait manfaat atau value edit yang akan diperoleh oleh petani atau pelaku usaha tani apabila menerapkan penanganan pascapanen dengan tepat dapat diketahui. Menerapkan penanganan pascapanen dengan tepat memberi arti bahwa, petani atau pelaku usaha tani telah berupaya untuk meningkatkan nilai tambah produk, meningkatkan pendapatan dan dalam waktu yang bersamaan telah bersinergi melakukan mitigasi emisi gas rumah kaca. Dengan demikian peran aktif sektor pertanian dari perspektif pascapanen merupakan langkah nyata adaptasi serta upaya mencegah dampak dari perubahan iklim global.  


Kolom Komentar

You must login to comment...