Kisah Handaru Jati, Mantan Pegawai BUMN yang Banting Setir Jadi Peternak

Jurnalis Pangannews

Minggu, 04 Juni 2023 15:00 WIB

news
Handaru Jati, mantan pegawai BUMN yang banting setir jadi peternak kambing. (YouTube)

PanganNews.id, Klaten - Handaru Jati, pria berusia 30 tahun asal Klaten, memilih mengundurkan diri (keluar) dari pekerjaannya sebagai pegawai asuransi di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pemuda yang kini tinggal di Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah memutuskan untuk beralih karir menjadi peternak.

Selama tiga tahun terakhir, Ndaru, sapaan akrabnya, mengembangkan peternakan domba dan kambing bernama Ciptahadi Karya Farm.

Dirinya kini memiliki tiga kandang kambing dengan total kapasitas ratusan ekor domba serta kambing.

Ketiga kandang ini berada di Desa Karangturi dan Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno.

Ndaru yang merupakan lulusan S1 Teknik Industri dari Telkom University Bandung ini bekerja selama lima tahun di sebuah perusahaan asuransi milik negara.

Meski memiliki penghasilan stabil sebagai pegawai BUMN, Ia memilih mengundurkan diri pada April 2020.

Alasan pengunduran dirinya dari perusahaan karena sering pindah kerja dan meninggalkan istrinya di kampung halaman.

Sebulan kemudian, pada Mei 2020, Ndaru memutuskan untuk memulai usaha peternakan domba dan kambing.

Salah satu motivasinya saat itu adalah belum banyak anak muda yang berkecimpung di dunia peternakan. Keputusannya menjadi petani dinilai berani.

Sebelumnya, tidak ada petani di keluarganya. Orang tua Ndaru berprofesi sebagai guru. Berbekal ilmu yang diperolehnya secara otodidak, termasuk riset online dan platform seperti YouTube, Ndaru mulai membangun bisnis peternakannya.

Ndaru memanfaatkan tanah keluarga yang tidak terpakai untuk usahanya.

“Waktu itu saya belum paham aspek pemeliharaan dan pemasaran. Saya belajar sendiri sambil jalan-jalan,” kata Ndaru.

Perjalanan Ndaru dalam merintis usahanya bukan tanpa tantangan.  Awalnya, pria Klaten itu membeli 25 ekor domba bunting.

“Akibat kesalahan kandang, pakan, dan perawatan, dari 25 ekor induk betina, sekitar 20 ekor melahirkan, tetapi 17 ekor kambing mati. Kami tidak kehilangan aset, tetapi kami kehilangan potensi ekonomi sekitar 10 juta rupiah, belum lagi tenaga, waktu, dan pikiran yang diinvestasikan," jelasnya.

Belajar dari kesalahan di awal usahanya, Ndaru terus mempelajari teknik beternak kambing. Ia pun bergabung dengan komunitas petani di Yogyakarta. Dari komunitas ini, Ndaru belajar banyak tentang teknik bercocok tanam dan pemasaran.

Lambat laun usahanya mulai berkembang. Tiga kandang miliknya berfungsi sebagai kandang pembibitan dan penggemukan, dengan kapasitas masing-masing 70, 130, dan 350 ekor domba dan kambing. 

Ndaru tidak hanya fokus pada aspek hulu, namun ia dan keluarganya juga memperluas bisnisnya ke hilir dengan mendirikan warung sate kambing di samping Polsek Trucuk.

Saat ini Ndaru dibantu enam orang, dengan rincian satu orang sebagai penjagal, satu orang di warung, dua orang mengurus kandang, dan tiga orang membantu di warung.

Setiap bulan, usaha peternakan sapi menargetkan pasar minimal 40 ekor domba untuk persediaan kandang di beberapa wilayah, melayani jasa pemotongan, dan menyediakan hewan untuk keperluan upacara keagamaan.

Selain mengembangkan aspek peternakan dari hulu ke hilir, Ndaru juga mulai merambah mengolah kotoran kambing menjadi pupuk. Ia berharap usahanya bisa terintegrasi dengan pertanian dan melihat bahwa ada potensi.

Penulis : Ajat Nicko
Redaktur : R Muttaqien


Kolom Komentar

You must login to comment...