14 jam yang lalu
Pangannews.id - Gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah Vietnam memunculkan ancaman baru bagi sektor pangan. Di Provinsi Phu Tho, yang menjadi salah satu sentra peternakan terbesar di negara itu, peternak dan pembudidaya ikan kini berpacu dengan waktu untuk mencegah merebaknya penyakit yang berpotensi memangkas produksi.
Suhu tinggi yang berlangsung dalam waktu lama tidak hanya menurunkan produktivitas ternak dan ikan, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena Phu Tho menampung hampir dua juta ekor babi, lebih dari 36 juta unggas, serta sekitar 400.000 ekor kerbau dan sapi.
Bagi Nguyen Van Su, peternak sapi di Komune Da Bac, musim panas bukan sekadar soal menjaga ketersediaan pakan. Ancaman terbesar justru datang dari penyakit yang lebih mudah menyerang ternak saat suhu meningkat.
Karena itu, ia rutin membersihkan kandang, menyemprotkan disinfektan, serta memberikan tambahan vitamin dan elektrolit untuk menjaga daya tahan hewan. Ternaknya juga tidak digembalakan pada jam-jam terpanas antara pukul 10.00 hingga 16.00.
“Pencegahan selalu lebih murah daripada mengobati. Saat cuaca sangat panas, risiko penyakit meningkat tajam,” ujarnya.
Kondisi serupa dihadapi Le Hai Yen, pemilik peternakan burung unta dengan lebih dari 300 ekor ternak. Untuk menghindari stres panas, ia memasang area teduh, memastikan ketersediaan air bersih, mengatur ventilasi kandang, dan menyesuaikan pola pemberian pakan.
Ancaman juga menghantui sektor budidaya perikanan. Kenaikan suhu air dapat menurunkan kadar oksigen dan mempercepat perkembangan patogen yang menyerang ikan.
Bui The Can, pembudidaya ikan di Thung Nai, mengaku harus lebih sering membersihkan keramba dan mengurangi kepadatan ikan agar kualitas air tetap terjaga. Ia juga menambahkan vitamin C dan probiotik guna meningkatkan ketahanan ikan terhadap penyakit.
Pemerintah Provinsi Phu Tho menilai langkah pencegahan menjadi kunci mengingat skala peternakan dan perikanan di wilayah tersebut sangat besar. Saat ini provinsi itu memiliki hampir 19.900 hektare area budidaya perikanan dan lebih dari 6.300 keramba di sungai maupun waduk.
Untuk mengantisipasi wabah, pemerintah telah menyiapkan cadangan satu juta dosis vaksin flu burung, 60.000 dosis vaksin penyakit mulut dan kuku, 10.000 dosis vaksin penyakit kulit berbenjol, 50.000 dosis vaksin rabies, serta sekitar 15.000 liter disinfektan.
Selain itu, pemantauan kualitas air dan kesehatan ikan dilakukan secara berkala. Pada awal 2026, otoritas setempat telah mengambil sampel air dan ikan dari sejumlah kawasan budidaya guna mendeteksi potensi wabah sejak dini.
Tantangan menjadi semakin besar karena mayoritas usaha peternakan di Phu Tho masih berskala kecil. Tercatat lebih dari 421.000 rumah tangga peternak dan sekitar 5.300 peternakan beroperasi di provinsi tersebut. Kepadatan populasi hewan yang tinggi membuat risiko penyebaran penyakit meningkat ketika cuaca ekstrem terjadi.
Wakil Direktur Departemen Pertanian dan Lingkungan Provinsi Phu Tho, Bui Duy Linh, mengatakan sektor peternakan dan perikanan menjadi penopang penting target pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026. Karena itu, pengendalian penyakit harus menjadi prioritas.
Menurutnya, selain memperkuat pengawasan dan vaksinasi, peternak juga didorong menerapkan sistem budidaya yang aman secara hayati, memperbaiki kandang dan kolam, serta menyiapkan cadangan pakan dan obat-obatan untuk menghadapi cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Sumber: Vietnam.vn
Editor : Adi Permana
Selasa, 09 Juni 2026 11:46 WIB
Minggu, 07 Juni 2026 14:11 WIB
Kamis, 04 Juni 2026 13:35 WIB
Selasa, 02 Juni 2026 10:56 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...