Gejala Keracunan Jajanan Latiao dan Langkah Darurat yang Harus Dilakukan

Pers Pangannews

Rabu, 06 November 2024 11:05 WIB

news
Gejala Keracunan Jajanan Latiao dan Langkah Darurat yang Harus Dilakukan

Pangannews.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menarik dan menghentikan peredaran produk jajanan impor asal China, Latiao, setelah terbukti tercemar bakteri Bacillus cereus yang menyebabkan kejadian luar biasa keracunan pangan (KLB KP) di beberapa wilayah Indonesia.

BPOM mengungkapkan bahwa tujuh daerah yang terdampak keracunan tersebut antara lain Lampung, Sukabumi, Wonosobo, Tangerang Selatan, Bandung Barat, Pamekasan, dan Riau.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam rilis resminya, mengatakan bahwa pihaknya telah memerintahkan kepada importir untuk menarik seluruh produk Latiao dari peredaran. Selain itu, produk-produk yang diduga menyebabkan keracunan harus dimusnahkan, dan proses pemusnahan tersebut harus dilaporkan kepada BPOM untuk memastikan tidak ada produk yang tersisa di pasar.

Bakteri Bacillus Cereus Sebabkan Dua Sindrom Keracunan Pangan

Pencemaran oleh bakteri Bacillus cereus dalam jajanan Latiao ini menyebabkan dua jenis sindrom keracunan pangan, yaitu sindrom emetik (muntah) dan sindrom diare. Bakteri Bacillus cereus dikenal sebagai salah satu penyebab utama keracunan pangan yang sering ditemukan pada makanan yang tidak disimpan atau diolah dengan benar.

  1. Sindrom Emetik (Muntah)

Gejala ini biasanya muncul dalam waktu 1 hingga 6 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dengan racun emetik dari Bacillus cereus. Gejalanya meliputi mual, muntah, dan terkadang disertai diare. Biasanya gejala ini akan mereda dalam 6 hingga 24 jam.

  1. Sindrom Diarrhea (Diare)

Gejala ini terjadi lebih lambat, biasanya muncul dalam 8 hingga 16 jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejalanya meliputi diare, sakit perut, dan mual.

Dalam beberapa kasus, diare dapat disertai darah dan lendir. Sindrom ini cenderung membaik dalam 12 hingga 24 jam, namun pada beberapa kasus, bisa lebih parah, bahkan berpotensi menyebabkan kematian, terutama pada individu yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Deteksi Dini dan Pertolongan Pertama

Penyebaran informasi mengenai gejala keracunan Bacillus cereus sangat penting untuk mendeteksi dini potensi keracunan pangan. Berdasarkan penjelasan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), gejala keracunan makanan akibat Bacillus cereus dapat bervariasi, dan tindakan pertolongan pertama sangat diperlukan untuk meringankan gejala.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan beberapa langkah pertolongan pertama bagi korban keracunan makanan, di antaranya:

  1. Posisikan penderita dalam keadaan nyaman, berbaring dengan posisi tubuh sejajar.
  2. Berikan cairan yang dapat membantu mengurai racun, seperti air kelapa muda, susu kental, teh, atau air mineral.
  3. Beri minum air jahe, jus atau yogurt lidah buaya, atau makan kulit delima parut yang dapat menyembuhkan muntah dan sakit perut
  4. Bantu penderita untuk memuntahkan makanan jika ada keinginan untuk muntah.
  5. Berikan karbon aktif, yang dapat membantu menyerap racun di saluran pencernaan.
  6. Ganti cairan tubuh yang hilang dengan oralit, air putih, atau air kelapa muda.
  7. Biarkan penderita keracunan beristirahat beberapa saat untuk mengembalikan kekebalan tubuhnya
  8. Jika gejala tidak membaik dalam beberapa jam atau kondisi penderita semakin parah, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Keracunan pangan yang disebabkan oleh Bacillus cereus, jika tidak ditangani dengan cepat, dapat mengakibatkan komplikasi serius. Kondisi yang lebih parah dapat menyebabkan kelemahan otot, kesulitan menelan atau berbicara, serta kerusakan organ tubuh.

 

 


Kolom Komentar

You must login to comment...