Pabrik Biomassa PLN NP di Lampung Siap Produksi 70 Ton per Hari untuk Co-Firing PLTU

Pers Pangannews

Rabu, 22 Oktober 2025 12:12 WIB

news
Peresmian Unit Produksi Biomassa Bandar Lampung (UPBBL) milik PT PLN Nusantara Power (PLN NP) melalui anak usahanya, PT PLN NP Services di Jalan Lintas Sumatera Km 15, Tarahan, Lampung, Selasa (21/10/2025). (Foto : ANTARA/HO-PLN NP)

Pangannews.id - PT PLN Nusantara Power (PLN NP) memperkuat langkah menuju energi bersih dengan meresmikan Unit Produksi Biomassa Bandar Lampung (UPBBL) melalui anak usahanya, PT PLN NP Services.

Fasilitas baru ini menjadi bagian penting dari program co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Sumatera, yang merupakan bagian dari strategi transisi energi nasional.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menuturkan bahwa kehadiran UPBBL tidak hanya menambah kapasitas pasokan biomassa untuk mendukung co-firing, tetapi juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam membangun kemandirian energi berbasis potensi lokal.

“UPBBL bukan sekadar fasilitas produksi, tapi simbol kemandirian energi daerah yang memanfaatkan sumber daya dan tenaga kerja lokal,” ujar Ruly, dalam keterangan resmi, Rabu (22/10/2025).

Unit produksi yang berlokasi di Bandar Lampung ini memiliki kapasitas produksi hingga 70 ton biomassa per hari, atau setara dengan 23.100 ton per tahun.

Seluruh hasil produksinya akan digunakan untuk mendukung kebutuhan co-firing di sejumlah PLTU di wilayah Sumatera, termasuk PLTU Tarahan.

Ruly menjelaskan, UPBBL didukung teknologi modern berupa mesin rotary dryer yang mampu menurunkan kadar air (moisture content) hingga 20 persen lebih rendah dibanding metode konvensional.

Hasilnya, produk biomassa berupa woodchip memiliki gross calorific value (GCV) di atas 3.500 kkal/kg, menjadikannya bahan bakar alternatif berkualitas tinggi untuk mendukung efisiensi PLTU.

Selain berdampak positif bagi lingkungan, keberadaan unit biomassa ini juga membawa manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sekitar 90 persen tenaga kerja yang terlibat dalam operasional UPBBL merupakan warga lokal.

Sementara itu, pasokan bahan baku kayu seluruhnya berasal dari daerah sekitar Lampung dan Sumatera Selatan, seperti Bergen, Tanjung Bintang, Way Kanan, Mesuji, hingga Ogan Komering Ilir (OKI).

Dengan begitu, rantai pasok biomassa tidak hanya efisien tetapi juga memberikan nilai ekonomi langsung kepada masyarakat lokal.

“Pendirian UPBBL menambah infrastruktur hijau di lingkungan PLN Nusantara Power Group dan memperkuat rantai pasok biomassa nasional,” kata Direktur Operasi Pembangkitan Batu Bara PLN NP, M. Irwansyah Putra.

Menurut Irwansyah, kehadiran UPBBL menjadi bagian penting dari upaya PLN dalam mempercepat transisi energi menuju sistem kelistrikan yang lebih hijau.

Sepanjang tahun 2024, PLN Nusantara Power tercatat memproduksi 69 GWh listrik hijau dengan kontribusi biomassa mencapai 1,57 persen dari total kapasitas pembangkit.

Dengan beroperasinya fasilitas baru ini, kontribusi tersebut diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. UPBBL juga diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 12,7 juta kilogram CO₂ per tahun, serta menekan konsumsi batu bara di PLTU Tarahan sebesar 3,36 persen, setara dengan 14,05 persen kontribusi co-firing.

“Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam mempercepat transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Irwansyah.

Dengan peresmian UPBBL, PLN Nusantara Power menegaskan perannya sebagai pionir dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.

Program ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya lokal.

Ke depan, PLN NP berencana memperluas jaringan produksi biomassa di berbagai wilayah Indonesia guna memastikan ketersediaan pasokan energi alternatif yang stabil, efisien, dan ramah lingkungan.

“Kami percaya, langkah kecil dari daerah akan memberi dampak besar bagi masa depan energi Indonesia,” tutup Ruly.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...