Selasa, 03 Maret 2026 20:04 WIB
Pangannews.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dasar di DKI Jakarta menyisakan catatan evaluasi. Penelitian dosen Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) menemukan sebagian besar siswa tidak menghabiskan makanan yang dibagikan dalam program tersebut.
Riset yang dilakukan pada Juni hingga September 2025 itu berlangsung di lima SD yang tersebar di Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Penelitian dipimpin oleh Dian Sulistiawati dengan metode observasi langsung dan wawancara terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).
“Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata yang rinci dan mendalam tentang pelaksanaan MBG di beberapa sekolah di DKI Jakarta,” ujar Dian, dikutip dari laman resmi FISIP UI.
Dalam setiap kunjungan, tim peneliti menghabiskan satu hari penuh di masing-masing sekolah. Mereka mengamati proses siswa menyantap makanan di dua hingga tiga kelas. Hasilnya, dari satu kelas berisi 32–34 siswa, hanya sekitar empat hingga lima anak yang benar-benar menghabiskan porsi yang diberikan.
“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” kata Dian.
Sebagian besar siswa lainnya tidak mengonsumsi makanan secara tuntas. Bahkan, ada yang hanya makan dalam jumlah sangat sedikit. Di beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarang praktik tersebut.
Temuan itu, menurut Dian, perlu menjadi perhatian serius. Program MBG yang dirancang untuk memperbaiki asupan gizi anak berpotensi menimbulkan pemborosan apabila makanan tidak dikonsumsi optimal.
“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” ujarnya.
Penelitian tersebut juga memetakan berbagai peluang dan kendala dalam pelaksanaan MBG di tingkat sekolah.
Kajian ini memandang MBG bukan sekadar program distribusi makanan, melainkan proses pembangunan yang dipengaruhi relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, serta partisipasi aktor lokal.
Salah satu temuan penting adalah soal menu yang dinilai kurang akrab bagi sebagian siswa. Kondisi itu disebut memengaruhi selera makan anak dan berujung pada banyaknya sisa makanan.
Dian menekankan bahwa pola makan tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya. “Diperlukan proses pembelajaran, edukasi rasa, jenis, dan makna makanan, serta pendekatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai rekomendasi, tim peneliti menyarankan agar program MBG dibarengi dengan edukasi nutrisi oleh para ahli, serta pengawasan dari pihak sekolah dan SPPG untuk memastikan makanan benar-benar dikonsumsi.
Editor : Adi Permana
Rabu, 04 Maret 2026 19:34 WIB
Selasa, 03 Maret 2026 20:34 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...