Permintaan Cerutu Premium Dunia Naik, PTPN I Perluas Produksi Tembakau

Pers Pangannews

9 jam yang lalu

news
Ilustrasi daun tembakau. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Ketika berbagai negara memperketat regulasi terhadap produk tembakau, permintaan bahan baku cerutu premium justru masih menunjukkan tren pertumbuhan.

Ceruk pasar yang menyasar konsumen kelas atas itu dinilai tetap menjanjikan dan membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok tembakau premium dunia.

Peluang tersebut dimanfaatkan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I dengan meningkatkan produksi Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli melalui perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, serta penguatan kualitas hasil panen.

Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas mengatakan kedua jenis tembakau tersebut telah lama menjadi andalan industri cerutu premium dunia karena memiliki karakteristik yang sulit ditandingi negara lain.

"Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBN) dan Tembakau Deli telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus atau wrapper cerutu premium terbaik di dunia," kata Teddy, dikutip dari Antara.

Menurutnya, tembakau produksi PTPN I memiliki daun yang elastis, tekstur halus, warna premium, stabilitas bakar yang baik, serta cita rasa dan aroma khas yang menjadi standar industri cerutu kelas atas.

Karakteristik tersebut membuat produk asal Indonesia diminati pembeli dari Eropa, Amerika Latin, hingga berbagai kawasan lainnya.

"Konsistensi kualitas spesifik inilah yang membuat produk PTPN I menjadi pilihan utama industri cerutu mewah dunia," ujarnya.

Permintaan pasar yang terus meningkat tercermin dari tren produksi dalam lima tahun terakhir. Setelah sempat turun dari 748.638 kilogram pada 2021 menjadi 729.544 kilogram pada 2022, produksi kembali meningkat menjadi 932.837 kilogram pada 2023.

Tren positif itu berlanjut pada 2024 dengan produksi mencapai 974.489 kilogram dan tetap terjaga di level 972.243 kilogram sepanjang 2025.

Produktivitas lahan juga terus membaik. Dari 1.238 kilogram per hektare pada 2021 dan 1.090 kilogram per hektare pada 2022, produktivitas meningkat menjadi 1.372 kilogram per hektare pada 2023, kemudian 1.382 kilogram per hektare pada 2024, hingga mencapai rekor 1.397 kilogram per hektare pada 2025.

Melihat prospek pasar yang terus berkembang, PTPN I memperluas areal tanam menjadi 500 hektare pada musim tanam 2026.

"Langkah konkret ini diambil demi menjamin kontinuitas pasokan dalam memenuhi kontrak-kontrak internasional," kata Teddy.

Ia optimistis ekspansi tersebut dapat mengembalikan kejayaan tembakau premium Indonesia di pasar global. Menurutnya, berbeda dengan produk tembakau massal, cerutu premium memiliki segmen pasar yang lebih eksklusif sehingga relatif tahan terhadap gejolak ekonomi maupun pengetatan regulasi industri tembakau.

Permintaan masih tumbuh dari segmen produk mewah (luxury products), gaya hidup premium (premium lifestyle), pasar kolektor, hingga industri perhotelan kelas atas (high-end hospitality).

Selain itu, tren konsumen global yang semakin menghargai produk berbasis asal-usul (origin-based products) turut memperbesar peluang Tembakau Besuki dan Deli memperluas pangsa pasar.

Meski demikian, perubahan iklim menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sebagai tanaman semusim, tembakau sangat bergantung pada kondisi cuaca sehingga berpotensi memengaruhi kualitas daun.

Untuk menjaga konsistensi mutu, PTPN I menerapkan berbagai langkah mitigasi mulai dari penyesuaian kalender tanam sesuai kondisi agroklimat, pemantauan cuaca secara real time, penggunaan varietas yang lebih adaptif, hingga penerapan budidaya berkelanjutan.

Di sisi hilir, perusahaan juga memperketat pengendalian mutu melalui sistem traceability sejak pembibitan hingga pascapanen.

"Terakhir, dari aspek jaminan mutu, manajemen memperketat quality control dan menerapkan sistem ketertelusuran (traceability) ketat dari fase pembibitan hingga pascapanen," jelas Teddy.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...