Antisipasi El Nino dan Risiko Dampak Panas Ekstrim, Kementan Siapsiagakan Penyuluh Hadapi Dampaknya

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 17, Selasa (07/07/2026).  (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) kembali menyelenggarakan acara rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 17, Selasa (07/07/2026). 

Kegiatan kali ini mengangkat tema “El Nino dan Risiko Dampak Panas Ekstrim bagi Kinerja Petani di Lahan Sawah” sebagai bentuk penguatan kesiapsiagaan seluruh insan pertanian dalam menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering akibat pengaruh El Niño.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa perubahan iklim tidak boleh menjadi penghambat dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. 

"Kita tidak boleh kalah dengan perubahan iklim. Dengan kerja sama, pemanfaatan teknologi, serta pengawalan yang kuat di lapangan, produksi pertanian harus tetap meningkat demi menjaga ketahanan pangan nasional," tegas Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa penyuluh pertanian memiliki peran yang sangat strategis sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. 

Menurutnya, setiap informasi yang diperoleh harus segera diteruskan kepada petani sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan di lapangan. Penyuluh juga diharapkan mampu mendampingi petani dalam menghadapi perubahan iklim melalui penerapan teknologi budidaya yang adaptif, pemanfaatan informasi iklim, serta penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menekankan bahwa penyuluh pertanian harus mampu menjadi penghubung antara informasi yang dihasilkan oleh BMKG dengan kebutuhan petani di lapangan. Informasi prakiraan musim, curah hujan, maupun potensi kekeringan harus segera disampaikan kepada petani agar dapat menjadi dasar dalam menentukan pola tanam, pengelolaan air, serta langkah mitigasi lainnya. 

Menurutnya, penyuluh tidak hanya bertugas mendampingi proses budidaya, tetapi juga memastikan setiap kebijakan dan informasi strategis pemerintah dapat diterapkan secara nyata di tingkat petani sehingga mampu menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Narasumber utama Ngobras, Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Marzuki menjelaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Oleh karena itu, informasi iklim perlu dimanfaatkan sebagai dasar dalam menentukan waktu tanam, memilih varietas yang sesuai, mengelola irigasi, mengendalikan OPT, hingga mendukung penyusunan strategi ketahanan pangan nasional.

Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi oleh beberapa fenomena global, di antaranya El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). El Niño umumnya menyebabkan penurunan curah hujan sehingga meningkatkan potensi kekeringan, sedangkan La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan. Sementara itu, IOD positif juga dapat memperkuat kondisi musim kemarau di Indonesia, ungkap Marzuki.

Prakiraan curah hujan menunjukkan bahwa pada periode Juli hingga September sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami curah hujan rendah, terutama di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan. Memasuki Oktober hingga Desember, curah hujan diperkirakan mulai meningkat secara bertahap seiring memasuki musim peralihan.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menghadapi perubahan iklim melalui pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan, optimalisasi pengelolaan sumber daya air, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, serta penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) guna menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau, ujar Marzuki.

Menutup pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi musim kemarau sangat bergantung pada kesiapan seluruh pihak dalam memanfaatkan informasi iklim secara optimal.

Penyuluh pertanian diharapkan dapat meneruskan informasi tersebut kepada petani sebagai dasar penyusunan kalender tanam, pengelolaan air, dan penerapan strategi adaptasi sehingga risiko kekeringan dapat diminimalkan dan produktivitas pertanian tetap terjaga.(*/ADV)


Kolom Komentar

You must login to comment...