Ancaman Krisis Pangan 2050, Riset Pertanian Lintas Negara Perlu Diperkuat

Pers Pangannews

21 jam yang lalu

news
esearch Talk bertajuk "Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships". (Foto : ugm.ac.id)

Pangannews.id - Dunia diprediksi menghadapi ancaman krisis ketahanan pangan pada 2050 ketika populasi mencapai 9,7 miliar jiwa. Produksi pangan diperkirakan harus meningkat hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian.

Tantangan tersebut dibahas dalam Research Talk bertajuk "Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships" yang digelar bersamaan dengan peluncuran program Double Degree Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Melbourne, di UGM, Yogjakarta, Rabu (26/8/2026) lalu.

Sejumlah solusi yang didorong meliputi intensifikasi pertanian berkelanjutan, pemanfaatan teknologi cerdas dan rekayasa genetika, peningkatan hasil panen, serta pengurangan kehilangan pangan yang saat ini mencapai 50 persen.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani mengatakan kerja sama dengan University of Melbourne tidak sekadar memberi pengalaman belajar di dua universitas. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat riset dan menyiapkan talenta dengan wawasan global dalam menghadapi tantangan pangan dan pertanian.

“Kolaborasi ini merupakan kesempatan yang sangat berarti untuk mempertemukan kekuatan dan keunggulan yang kita miliki, memperluas wawasan akademik, serta membangun wadah bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar, berkolaborasi, dan berinovasi lintas batas,” katanya.

Direktur Riset Pascasarjana University of Melbourne Associate Professor Dorin Gupta mengatakan kolaborasi lintas negara diperlukan untuk membangun sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

Menurutnya, kerja sama dapat mencakup penguatan penyimpanan pascapanen, keamanan pangan, kesehatan tanah, pengelolaan air, hingga penciptaan nilai tambah.

Sementara itu, Dr. Antanas Spokevicius dari University of Melbourne menyoroti pemanfaatan teknologi genetika dan AI untuk mempercepat pengembangan hutan tanaman. Teknologi tersebut telah diterapkan pada Eucalyptus tropis di Kepulauan Tiwi, Australia, yang menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan mencapai 2,5 meter dalam beberapa bulan.

Dari sisi distribusi, Guru Besar FTP UGM Prof. Kuncoro Harto Widodo mengatakan Indonesia masih menghadapi persoalan logistik pangan akibat ketimpangan sebaran penduduk dan pusat industri. Tantangannya mencakup ketidakseimbangan pasokan, disparitas kargo antardaerah, infrastruktur, dan birokrasi.

Meski demikian, rasio biaya logistik nasional terhadap PDB telah turun dari 24 persen menjadi 14,29 persen pada 2023. Pemerintah juga mendorong efisiensi melalui Cetak Biru Sistem Logistik Nasional dan National Logistic Ecosystem (NLE).

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...