BRIN Uji Biopestisida Berbahan Minyak Atsiri untuk Penyakit Cabai

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
BRIN mengembangkan biopestisida berbahan tiga minyak atsiri untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biopestisida berbahan tiga minyak atsiri untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Dalam pengujian di laboratorium, formulasi tersebut mampu menghambat pertumbuhan cendawan penyebab penyakit.

Biopestisida itu dikembangkan Peneliti Pusat Riset Perkebunan BRIN, Riki Warman, dengan memanfaatkan minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus. Ketiganya dikombinasikan dan kemudian diproses menggunakan teknologi nanoenkapsulasi.

Riki mengatakan penggunaan minyak atsiri sebagai bahan biopestisida memiliki potensi karena lebih ramah lingkungan. Namun, pemanfaatannya secara langsung masih memiliki sejumlah keterbatasan.

Minyak atsiri mudah menguap dan tidak tahan terhadap paparan sinar ultraviolet maupun air hujan. Bahan tersebut juga memiliki kelarutan rendah dalam air sehingga dosisnya sulit dikontrol saat diaplikasikan.

"Campuran minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada cabai," kata Riki, dikutip dari laman BRIN.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, BRIN menggunakan teknologi nanoenkapsulasi. Teknologi ini ditujukan untuk melindungi senyawa aktif minyak atsiri sekaligus membuat pelepasannya berlangsung lebih lambat.

"Melalui teknologi nanoenkapsulasi, efisiensi pelepasan lambat (slow-release) minyak atsiri dapat dioptimalkan sehingga daya simpan dan efektivitas formulasi biopestisida meningkat," ujarnya.

Dalam pengujian laboratorium, serbuk hasil enkapsulasi campuran minyak atsiri tersebut mampu menghambat pertumbuhan Colletotrichum scovillae dan C. truncatum. Kedua jenis cendawan itu merupakan patogen penyebab antraknosa pada cabai.

Formulasi dengan perbandingan nanoemulsi dan matriks 5:1 serta 6:1 menunjukkan karakteristik fisik yang dinilai optimal. Ukuran partikelnya rata-rata berada pada kisaran 209,6-363,0 nanometer, dengan stabilitas koloid yang tinggi berdasarkan nilai zeta potensial sebesar -35,0 mV.

Formulasi tersebut dibuat dengan mencampurkan minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus dengan rasio 5:1:2 bersama surfaktan dan ko-surfaktan. Campuran kemudian diproses menjadi nanoemulsi dan dicampurkan dengan kitosan 1 persen serta maltodekstrin sebagai matriks nanokapsul.

Hasil akhirnya dikeringkan menggunakan spray drying hingga menjadi serbuk nanoenkapsulasi konsorsium minyak atsiri.

Meski menunjukkan hasil penghambatan yang stabil hingga hari ke-14, efektivitas formulasi tersebut masih berada di bawah fungisida kimia.

"Nanoenkapsulasi yang kita buat ini menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan hingga hari ke-14 yang stabil. Meskipun efikasi formulasi ini masih di bawah fungisida kimia, harapannya nanoenkapsulasi ini dapat kita gunakan untuk mengendalikan patogen di lapangan untuk pertanian berkelanjutan ke depannya," kata Riki.

Pengembangan biopestisida ini dilakukan di tengah persoalan penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan dan terus-menerus yang dapat berdampak pada manusia, lingkungan, hingga organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...