18 jam yang lalu
Pangannews.id - Dugaan keracunan makanan dari menu makan bergizi gratis (MBG) yang dialami sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, masih ditelusuri. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii meminta dapur yang memasok makanan bagi para santri diinvestigasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Romo Syafii menyampaikan hal itu setelah menjenguk santri yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Saat kunjungan tersebut, terdapat delapan pasien yang dirawat. Lima santri telah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih menjalani perawatan.
Keluhan yang dialami para santri berupa gangguan perut dan mual. Namun, kondisi mereka disebut tidak berat.
“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Romo Syafii mengatakan penyebab kejadian belum bisa disimpulkan. Dapur tersebut diketahui telah memasok makanan kepada para santri selama hampir satu tahun dan baru kali ini muncul persoalan.
“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Ia menyebut dua menu yang banyak dikeluhkan santri, yakni telur dan sayuran. Meski demikian, menu tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kejadian.
Menurut Wamenag, pemeriksaan perlu mencakup proses memasak hingga waktu makanan dikonsumsi. Hal itu untuk memastikan tidak ada tahapan yang berjalan di luar petunjuk teknis (juknis).
“Apakah ada proses memasaknya yang tidak sesuai atau ada waktu makannya yang tidak sesuai dengan juknis, itu yang harus kita investigasi,” ujarnya.
Dapur yang memasok makanan tersebut pun dihentikan sementara untuk dievaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap berbagai kemungkinan persoalan dalam pengelolaan dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah evaluasi itu, Wamenag mengatakan kebutuhan santri terhadap MBG tetap tinggi. Ia menyebut para santri menyambut baik program tersebut dan menunggu makanan yang diberikan melalui MBG.
“Mereka sangat membutuhkan MBG itu. Keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi,” kata Romo Syafii.
Kementerian Agama juga terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperluas pelaksanaan MBG bagi pesantren dan madrasah.
Bersama Direktorat Pesantren, Kemenag mempercepat komunikasi dengan BGN agar semakin banyak pesantren dan madrasah memperoleh program tersebut, termasuk di wilayah terpencil.
“Kita sedang ngebut dengan Pak Direktur Pesantren supaya tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah,” ujarnya.
Wamenag berharap pada tahun ini tidak ada lagi madrasah maupun pesantren yang belum mendapatkan MBG.
Ia juga menyampaikan adanya penyesuaian skema pengelolaan dapur. Pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang atau sedikit di bawahnya dapat meningkatkan atau membangun dapur sendiri dengan tetap memenuhi standar yang ditetapkan, terutama terkait kebersihan, pencucian, penyimpanan, dan pengelolaan limbah.
Editor : Adi Permana
Selasa, 01 September 2026 19:48 WIB
Selasa, 01 September 2026 18:48 WIB
Senin, 31 Agustus 2026 19:22 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...