3 jam yang lalu
Pangannews.id - Produksi padi di tengah ancaman perubahan iklim dinilai perlu diarahkan pada tiga sasaran utama, yakni meningkatkan produktivitas, memperkuat kemampuan adaptasi, sekaligus menekan dampak lingkungan.
Peneliti Postdoctoral Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Wiraguna, mengatakan ketiga aspek tersebut perlu berjalan bersamaan.
Menurut dia, produksi padi cerdas iklim tidak cukup hanya dengan menerapkan teknologi, tetapi membutuhkan integrasi berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan petani.
“Ketiganya harus berjalan beriringan agar peningkatan produksi tetap mampu menjawab tantangan iklim sekaligus menekan dampak lingkungan,” kata Edi, dikutip dari laman resmi BRIN.
Sejumlah pendekatan dapat diterapkan secara terpadu, mulai dari penggunaan varietas adaptif, pengelolaan air dan hara secara efisien, peningkatan kualitas tanah, pengendalian hama terpadu, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Edi menyoroti teknologi alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan berselang. Teknik tersebut dapat digunakan untuk menghemat air sekaligus mengurangi emisi metana dari lahan sawah.
Sementara itu, site-specific nutrient management (SSNM) memungkinkan pemberian pupuk disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
“Intervensi terbaik bukanlah satu teknologi tunggal, melainkan paket teknologi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat,” tegasnya.
Dalam pengelolaan hama dan penyakit, Edi mendorong pendekatan terpadu dengan mengombinasikan penggunaan varietas tahan, praktik budi daya yang tepat, pengendalian biologis, serta penggunaan pestisida secara bijak.
Teknologi digital juga dinilai dapat membantu petani mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat. Sensor, drone, satelit, hingga data cuaca dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses tersebut.
“Teknologi digital akan memberikan manfaat ketika informasi yang dihasilkan bersifat lokal, tepat waktu, mudah dipahami, dan terhubung langsung dengan pengambilan keputusan oleh petani,” katanya.
Di sisi lain, Kepala PRTP BRIN Yudhistira Nugraha mengatakan cadangan beras Indonesia tahun ini telah mendekati lima juta ton. Pemerintah juga memiliki target mencapai kondisi tanpa impor beras.
Namun, capaian tersebut tetap perlu diantisipasi karena produksi padi masih menghadapi ancaman perubahan kondisi iklim.
“BMKG telah memberikan peringatan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering dari biasanya. Capaian cadangan beras merupakan kabar baik, tetapi tetap rentan apabila kita tidak siap,” ujar Yudhistira.
Menurut Yudhistira, persoalan produksi padi berkaitan dengan perubahan iklim dalam dua arah. Tanaman padi terdampak perubahan iklim, sementara sistem produksi padi juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca, terutama metana yang berasal dari lahan sawah.
Karena itu, ia menilai inovasi dalam teknologi budi daya serta pengelolaan hama dan penyakit perlu segera diterapkan di lapangan.
“Inovasi teknologi budi daya dan pengelolaan hama penyakit bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera diterapkan di lapangan,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
Jumat, 04 September 2026 08:26 WIB
Kamis, 03 September 2026 13:44 WIB
Sabtu, 29 Agustus 2026 15:19 WIB
Sabtu, 29 Agustus 2026 14:28 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...