Senin, 08 September 2025 18:53 WIB
Pangannews.id - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mendalami dugaan kandungan minyak babi dalam peralatan makan atau ompreng yang digunakan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dugaan ini mencuat setelah ditemukan indikasi bahwa sebagian ompreng yang digunakan berasal dari produsen luar negeri, tepatnya Chaoshan, China.
Sebelumnya Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan, pihaknya tak akan segan menarik seluruh ompreng dari program MBG jika terbukti mengandung unsur non-halal.
“Kalau terbukti, tentu harus diganti semua. Tapi kita harus pastikan dulu lewat pemeriksaan yang akurat. Semua sedang ditelusuri,” kata Dadan, belum lama ini.
Penelusuran ini dilakukan dengan melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.
Fokus utama pemeriksaan adalah apakah pelumas yang digunakan dalam proses produksi ompreng mengandung bahan dari hewan babi.
BGN mengklaim telah menetapkan standar bahan stainless steel untuk ompreng MBG, yaitu tipe 201 dan 304. Namun dari dua tipe itu, hanya tipe 304 yang memenuhi standar food grade internasional.
"Yang benar-benar aman bersentuhan langsung dengan makanan adalah 304. Itu yang sebenarnya kita prioritaskan," ujar Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Ermia Sofiyessi.
Namun ia mengakui bahwa tidak semua pengadaan ompreng sesuai spesifikasi ideal. Di lapangan, variasi bahan masih ditemukan.
Ermia juga menyebut BGN mendorong pengadaan ompreng dari produsen dalam negeri, dengan tingkat komponen lokal minimal 40 persen. Impor hanya menjadi opsi jika pasokan lokal tidak mencukupi.
“Kalau dalam negeri tidak mampu penuhi kebutuhan, baru selisihnya diimpor. Tapi porsinya tidak boleh dominan,” jelasnya.
Isu ompreng hanya satu dari sejumlah sorotan terhadap pelaksanaan MBG. Sebelumnya, beberapa kasus keracunan makanan juga dilaporkan di berbagai wilayah. BGN mengaku telah melakukan sosialisasi dan penguatan tata kelola bersama mitra penyelenggara, termasuk Gabungan Pengusaha Dapur Makan Bergizi Indonesia (Gapembi).
“Program ini melibatkan banyak pihak. Maka perbaikan manajemen dan pengawasan harus dilakukan terus-menerus agar MBG tetap aman dan berkelanjutan,” kata Ermia.
Editor : Adi Permana
9 jam yang lalu
Rabu, 06 Mei 2026 11:10 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...