Kamis, 16 Oktober 2025 18:25 WIB
Pangannews.id - Peningkatan kebutuhan susu nasional seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Pasalnya, kapasitas produksi susu segar dalam negeri masih jauh dari cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut.
Epi Taufik, Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN), menjelaskan bahwa produksi susu segar dalam negeri (SSDN) saat ini baru mencapai sekitar satu juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional melonjak lebih dari delapan juta ton sejak program MBG berjalan.
“Sebelum ada MBG, kebutuhan susu kita hanya sekitar 4,7 juta ton. Kini, setelah program itu bergulir, angka permintaan meningkat drastis. Kalau seluruhnya harus dipenuhi dari bahan baku lokal, stok susu nasional bisa langsung habis,” terang Epi, Rabu (15/10/2025).
Untuk mengantisipasi defisit tersebut, pemerintah memutuskan agar susu MBG pada tahap awal menggunakan komposisi minimal 20 persen susu segar lokal.
Menurut Epi, kebijakan itu bersifat sementara dan akan ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan produksi nasional.
Meski belum sepenuhnya bersumber dari dalam negeri, Epi memastikan kualitas susu dalam program MBG tidak dikompromikan.
Komposisinya telah disusun berdasarkan standar susu cair penuh (full cream milk) sebagaimana tercantum dalam Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023.
“Secara kandungan gizi, susu MBG setara dengan susu segar, mulai dari protein, kalsium, sampai vitamin D. Anak-anak penerima program tetap mendapat asupan energi dan nutrisi optimal untuk mendukung pertumbuhan dan proses belajar,” ujarnya.
Epi menilai, kebijakan ini justru dapat menjadi dorongan besar bagi peternak lokal. Saat ini sekitar 90 persen susu segar nasional dihasilkan oleh peternak kecil dan menengah, sementara sisanya berasal dari industri besar.
Dengan adanya program MBG, peluang pasar bagi peternak lokal diperkirakan meningkat signifikan.
“Permintaan susu naik hampir dua kali lipat. Ini kesempatan bagi peternak untuk memperluas produksi dan memperkuat rantai pasok domestik yang selama ini masih bergantung pada impor,” kata Epi menambahkan.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyebut pemerintah telah menyiapkan peta jalan peningkatan produksi susu segar nasional periode 2025–2029.
Dalam rencana tersebut, salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengimpor satu juta ekor sapi perah dari sejumlah negara produsen utama seperti Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat untuk memperkuat populasi sapi perah nasional.
Khairul menilai, implementasi program MBG tidak hanya memberi manfaat di bidang gizi, tetapi juga menimbulkan efek berganda bagi sektor ekonomi.
“Program ini menggerakkan banyak rantai ekonomi, dari peternakan, pakan ternak, hingga industri pengolahan susu. Jadi, dampaknya tidak berhenti di sekolah, tapi menjalar hingga ke desa-desa penghasil susu,” tuturnya.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat memperkuat kemandirian di sektor produksi susu segar, sekaligus memastikan setiap anak yang menerima program MBG mendapatkan gizi terbaik dari hasil produksi negeri sendiri.
Editor : Adi Permana
Kamis, 18 Juni 2026 11:35 WIB
Kamis, 18 Juni 2026 11:28 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...