Teknologi SIG dan Drone Bawah Air Permudah Nelayan Aceh Barat Mencari Ikan

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Peneliti Perikanan UTU integrasikan SIG dan drone bawah air untuk efisiensi nelayan. (Foto : utu.ac.id)

Pangannews.id - Perubahan iklim mulai mengubah cara nelayan tradisional di pesisir Aceh Barat mencari ikan. Pola cuaca yang tak menentu dan bergesernya daerah tangkapan membuat pengalaman melaut yang diwariskan turun-temurun tak lagi selalu menjadi pegangan. Akibatnya, nelayan harus menghabiskan lebih banyak bahan bakar untuk mencari lokasi ikan yang belum tentu produktif.

Kondisi tersebut mendorong tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar (UTU) mengembangkan pendekatan baru. Mereka memadukan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) atau drone bawah air untuk membantu nelayan menentukan titik penangkapan ikan secara lebih akurat.

Laboran Laboratorium Sosial, Ekonomi, dan Bisnis Perikanan FPIK UTU, Iyan Al Misbah, mengatakan inovasi itu lahir dari persoalan yang dihadapi nelayan di lapangan.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan kajian akademik, tetapi juga harus menghadirkan solusi yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat pesisir.

"Melalui pendekatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, laboratorium kampus kami dekatkan dengan realitas yang dihadapi nelayan," kata Iyan, dikutip dari laman resmi UTU.

Teknologi yang dikembangkan diawali dengan analisis citra satelit dan pemodelan oseanografi menggunakan perangkat lunak SIG. Dari data tersebut, peneliti memprediksi lokasi ikan berdasarkan sebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut yang menjadi indikator keberadaan ikan.

Di laboratorium, mahasiswa bersama dosen mengolah data spasial, memetakan wilayah pesisir, lalu mengubah hasil analisis satelit menjadi titik-titik koordinat yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan.

Namun, menurut Iyan, data satelit saja belum cukup. "Data satelit tersebut masih bersifat prediksi di permukaan laut. Untuk membuktikan akurasinya, tim FPIK UTU melakukan validasi lapangan (ground truthing) dengan membawa drone bawah air sekelas FIFISH langsung ke atas perahu kayu tradisional milik nelayan dalam berbagai ekspedisi," ujarnya.

Drone bawah air itu kemudian menyelam hingga belasan meter untuk merekam kondisi di sekitar rumpon atau Fish Aggregating Devices (FAD) yang dipasang nelayan.

Dari hasil perekaman, tim dapat melihat langsung kondisi rumpon yang telah ditumbuhi biota laut dan dikelilingi gerombolan ikan. Temuan tersebut menjadi bukti bahwa titik koordinat yang dihasilkan melalui pemetaan SIG memang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Integrasi antara analisis satelit dan verifikasi visual di bawah laut inilah yang menjadi dasar konsep smart fishing yang dikembangkan UTU.

Melalui sistem tersebut, informasi yang sebelumnya rumit diterjemahkan menjadi titik koordinat yang mudah dipahami nelayan. Dengan begitu, mereka tidak lagi harus berputar-putar di laut untuk mencari ikan, sehingga penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien.

Tak hanya ditujukan untuk meningkatkan hasil tangkapan atau catch per unit effort (CPUE), program ini juga menjadi ruang belajar bersama antara kampus dan masyarakat pesisir.

Mahasiswa dan dosen mempelajari pengalaman nelayan dalam membaca karakter laut, sementara para nelayan diperkenalkan pada teknologi pemetaan spasial yang dapat mendukung aktivitas melaut mereka.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...