11 jam yang lalu
Pangannews.id - Kekayaan biodiversitas Indonesia selama ini lebih banyak dikenal sebagai aset lingkungan. Padahal, di balik ribuan spesies tumbuhan tropis, tersimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat.
Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku farmasi, pemanfaatan sumber daya hayati dalam negeri kini semakin didorong melalui kolaborasi riset lintas negara.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universiti Sains Malaysia (USM) membentuk konsorsium penelitian untuk mempercepat penemuan kandidat obat baru berbasis tanaman famili Meliaceae, kelompok tumbuhan tropis yang dikenal memiliki beragam senyawa bioaktif.
Melalui kolaborasi tersebut, ketiga institusi membentuk Pusat Kolaborasi Penelitian Penemuan Obat dari Tanaman Meliaceae Indonesia yang akan menjadi wadah riset terpadu selama tiga tahun ke depan.
Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOOT) BRIN, Sofa Fajriah, mengatakan kerja sama itu menjadi momentum untuk mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas Indonesia dan Malaysia sebagai sumber penemuan senyawa bioaktif.
"Kerja sama ini merupakan momentum penting untuk memperkuat sinergi penelitian dalam pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia dan Malaysia sebagai sumber penemuan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi kandidat obat baru," ujar Sofa, dikutip dari laman BRIN.
Menurut Sofa, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar, namun potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian industri farmasi nasional.
Salah satu fokus penelitian adalah tanaman dari famili Meliaceae yang diketahui menghasilkan metabolit sekunder dengan struktur kimia beragam dan aktivitas biologis yang menjanjikan.
Ia menegaskan, penemuan obat modern tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang botani, kimia bahan alam, farmasi, mikrobiologi, kedokteran hingga ilmu komputasi.
Dalam konsorsium tersebut, Unpad berperan melakukan eksplorasi botani, isolasi metabolit sekunder, dan karakterisasi senyawa bahan alam. USM mendukung melalui analisis struktur menggunakan teknik spektroskopi tingkat lanjut serta sintesis senyawa.
Sementara BRIN menyediakan infrastruktur laboratorium, pemodelan komputasi, pengujian aktivitas biologis, hingga mendukung hilirisasi hasil riset dan perlindungan kekayaan intelektual.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpad, Desi Harneti Putri Huspa, mengatakan kolaborasi tersebut bukan dimulai dari nol. Menurutnya, kerja sama ilmiah antara ketiga institusi telah berlangsung sejak sekitar 2015.
"Penandatanganan ini menjadi tonggak penting untuk semakin memperkuat kolaborasi penelitian di bidang kimia bahan alam dan penemuan obat berbasis tumbuhan famili Meliaceae yang telah terjalin selama hampir satu dekade," katanya.
Selama hampir sepuluh tahun terakhir, kolaborasi tersebut telah menghasilkan berbagai publikasi internasional sekaligus melahirkan lulusan sarjana, magister, dan doktor melalui penelitian bersama.
Desi berharap kerja sama itu tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu mempercepat penemuan senyawa baru, menghasilkan formulasi inovatif, mendorong hilirisasi hasil penelitian, hingga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan Mohamad Nurul Azmi Mohamad Taib dari School of Chemical Sciences, USM. Menurutnya, pengalaman bekerja sama selama lebih dari satu dekade menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya konsorsium penelitian yang lebih terarah.
"Kolaborasi ini memadukan keunggulan masing-masing institusi sehingga mampu membentuk ekosistem penelitian yang saling melengkapi dan mempercepat penemuan lead compound dari tumbuhan famili Meliaceae Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengenai kesehatan yang baik dan kemitraan global dalam penelitian.
Penelitian akan difokuskan pada sejumlah tanaman dari famili Meliaceae, seperti Aglaia, Chisocheton, Swietenia, Dysoxylum, dan Lansium.
Berbagai spesies tersebut diketahui memiliki kandungan senyawa yang berpotensi dikembangkan sebagai antikanker, antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes, hingga kandidat obat untuk melawan mikroorganisme yang resisten terhadap obat.
Tak hanya tanaman, tim peneliti juga akan mengeksplorasi jamur endofit yang hidup di dalam jaringan tanaman tersebut karena dinilai berpotensi menghasilkan senyawa bioaktif baru.
Selama tiga tahun penelitian, konsorsium akan menjalankan seluruh tahapan penemuan obat, mulai dari eksplorasi botani, pengambilan sampel, isolasi dan karakterisasi senyawa, analisis struktur, sintesis, pengujian aktivitas biologis, pemodelan molekuler berbasis komputasi, hingga validasi lead compound.
Riset itu diketuai oleh Unang Supratman dari Departemen Kimia FMIPA Unpad. Dari BRIN, kegiatan dikoordinasikan Al Arofatus Naini sebagai person in charge PRBBOOT, sementara dari USM dipimpin Mohamad Nurul Azmi Mohamad Taib.
Editor : Adi Permana
Selasa, 07 Juli 2026 08:27 WIB
Selasa, 30 Juni 2026 09:20 WIB
Sabtu, 27 Juni 2026 17:29 WIB
Sabtu, 27 Juni 2026 17:09 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...