UGM Kembangkan Agrivoltaic, Teknologi yang Menghasilkan Pangan Sekaligus Listrik

Pers Pangannews

16 jam yang lalu

news
Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., mengenalkan konsep agrivoltaic yang mengintegrasi panel surya di atas lahan pertanian. (Foto : dok. UGM)

Pangannews.id - Tekanan terhadap sektor pertanian Indonesia semakin kompleks. Di satu sisi, sebagian besar lahan pertanian dinilai belum dikelola secara berkelanjutan. Di sisi lain, perubahan iklim memicu ancaman kekeringan yang diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027 akibat fenomena El Nino.

Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai inovasi untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 menunjukkan sekitar 89,54 persen lahan pertanian Indonesia belum memenuhi standar produktivitas berkelanjutan. Penyebabnya beragam, mulai dari penggunaan bahan kimia secara berlebihan, pengolahan tanah dan pemanfaatan air yang tidak efisien, hingga persoalan konflik sosial di kawasan pertanian.

Melihat tantangan tersebut, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Agus Setiawan, memperkenalkan konsep agrivoltaic, yakni sistem yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan aktivitas pertanian dalam satu hamparan lahan.

Menurut Agus, konsep tersebut memungkinkan lahan menghasilkan dua manfaat sekaligus, yakni produksi pangan dan energi terbarukan. Gagasan itu terinspirasi dari keberhasilan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata yang memiliki kapasitas hingga ratusan megawatt.

"Teknologi ini sudah kami terapkan di Desa Pandowoharjo, Sleman. Sistemnya dioperasikan langsung oleh masyarakat dan hasilnya dimanfaatkan petani setempat," ujar Agus dalam Seminar Internasional Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia di Fakultas Teknik UGM, Rabu (24/6/2026), yang dilansir dari laman UGM.

Pengembangan berikutnya tidak berhenti di Sleman. UGM berencana membawa teknologi tersebut melalui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang ditempatkan di berbagai daerah terpencil.

"Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat. Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat," katanya.

Selain menghasilkan listrik, sistem agrivoltaic juga dikembangkan bersama teknologi smart farming yang memanfaatkan sensor dan sistem informasi untuk membantu petani mengambil keputusan secara lebih akurat.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan sistem tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni Management Information System (MIS), pertanian presisi (precision agriculture), serta optimalisasi melalui teknologi robotik.

Melalui sistem tersebut, berbagai data pertanian dapat dipantau secara langsung, mulai dari kondisi tanah, kebutuhan unsur hara, hingga kesehatan tanaman. Informasi yang diperoleh kemudian menjadi dasar pemberian perlakuan yang lebih tepat sehingga penggunaan pupuk maupun air menjadi lebih efisien.

"Dengan smart farming kita bisa mengetahui kondisi lahan melalui sensor. Misalnya tanah kekurangan unsur nitrogen, maka yang diberikan adalah pupuk nitrogen, bukan pupuk kalium. Jadi perlakuannya benar-benar sesuai kebutuhan tanaman," jelas Bayu.

Meski demikian, penerapan teknologi di lahan terbuka memiliki tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan di dalam rumah kaca. Perubahan cuaca yang sulit diprediksi membuat sistem pemantauan harus bekerja lebih adaptif.

Karena itu, tim peneliti mengembangkan integrasi berbagai perangkat, mulai dari drone pemetaan (drone surveillance), drone penyemprot (drone sprayer), sensor cuaca di permukaan, hingga sensor tanah portabel yang mampu memberikan informasi secara real-time mengenai kebutuhan tanaman.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan input pertanian yang selama ini kerap dilakukan secara berlebihan.

Pengalaman serupa juga dibagikan Direktur Solar Research Institute (SRI) Malaysia, Prof. Nofri Yenita Dahlan, yang menyebut integrasi pertanian dan pembangkit listrik tenaga surya telah diterapkan dalam skala besar di institusinya.

Menurut Nofri, keberadaan solar farm tidak hanya berhasil menekan tagihan listrik kampus, tetapi juga tetap dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian.

Ia mencontohkan penanaman tanaman merambat seperti pegaga di bawah panel surya setinggi dada untuk mengurangi erosi tanah. Di sisi lain, listrik yang dihasilkan panel surya digunakan untuk mengoperasikan sistem pengendali lingkungan di rumah kaca budidaya tomat ceri yang bekerja secara otomatis berdasarkan sensor suhu.

"Jadi dalam situasi ini, solar dapat membantu mengurangi penggunaan listrik," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. Rustamadji, menilai inovasi tersebut perlu diperluas melalui program pengabdian mahasiswa agar dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

Menurutnya, penerapan teknologi di desa tidak cukup hanya menghadirkan perangkat, tetapi juga harus diikuti dengan penguatan kapasitas masyarakat agar teknologi dapat dikelola secara mandiri.

"Penerapan teknologi tepat guna di masyarakat diharapkan tidak sekadar membawa teknologi, tetapi bagaimana menyiapkan masyarakat, kemudian membuat ekosistem yang mendukung untuk terselenggaranya teknologi tersebut," tegasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...